Kampung Loce ( Loce Village )
Kampung Loce terletak di Desa Loce, Kecamatan Reok Barat. Kampung ini berjarak 111 kilometer dari Ruteng. Di kampung Loce, terdapat compang (altar persembahan) yang berbeda dengan compang lain di Manggarai. Compang Kampung Loce memiliki tambahan patung Yesus (simbol inkulturasi), patung manusia (pendiri kampung) dan patung seekor anjing. Pendiri kampung Loce yang konon datang dari Gowa, Sulawesi diberikan tempat tinggal di areal lahan yang dengan ukuran setara satu tikar. Itulah asal – usul nama Loce (tikar pandan).
Meski hanya diberikan tanah seluas tikar, orang tersebut berhasil dengan baik. Hal ini memunculkan kecemburuan di kalangan warga pribumi yang konon telah memberikan tanah kepada ata peang mai (orang dari luar) ini yang bernama Empo Endok hingga pada suatu waktu mereka melakukan perencanaan pembunuhan dengan memasukkannya bersama dengan anjing peliharaan ke dalam sebuah gua dan setelahnya gua tersebut ditutup. Namun, hal itu tidak membuat Empo Endok terbunuh berkat bantuan seekor anjing yang menggali lubang di mana mereka berhasil keluar dari gua. Singkat cerita, untuk mengenang nenek moyang pendiri kampung yang banyak mewariskan karya rojok loce (menganyam tikar) hingga diminati publik dewasa ini, warga Kampung Loce mengabadikan patung Empo Endok bersama dengan anjing peliharaannya di atas compang. Sampai saat ini pun warga kampung Loce memiliki ceki acu atau larangan untuk memakan daging anjing.
Kampung Loce melakukan upacara penti setiap tahun dengan tanggal dan bulan yang sudah ditentukan yaitu 31 Oktober hingga 1 November.
| Koordinat : S 08° 22.614′ E 120° 23. 007′
Jarak dari Titik 0 : 111 km Elevasi :
|
ENGLISH VERSION
Loce Village is located in Loce Village, West Reok District. This village is 111 kilometers from Ruteng. In Loce Village, there is a compang (altar of sacrifice) that is different from other compangs in Manggarai. The Loce Village compang has Recommendations : Provide trash bins, information boards about the site, and restrooms. Establish clear management protocols and repair damaged access roads additional statues of Jesus (a symbol of inculturation), a human statue (the founder of the village), and a statue of a dog. The founder of Loce Village, who is said to have come from Gowa, Sulawesi, was given a place to live on an area of land the size of a mat. That is the origin of the name Loce (pandan mat). Even though he was only given a small plot of land, he managed to do well. This caused jealousy among the indigenous people, who had given the land to this outsider named Empo Endok. Eventually, they planned to kill him by putting him and his pet dog in a cave and then sealing it shut. However, Empo Endok did not die thanks to the help of a dog that dug a hole through which they managed to escape from the cave. Long story short, to commemorate the founding ancestors of the village who left behind a legacy of rojok loce (mat weaving) that is still popular today, the residents of Kampung Loce immortalized a statue of Empo Endok and his pet dog on top of a compang. To this day, the residents of Kampung Loce still have a ceki acu or prohibition against eating dog meat.
The village of Loce holds a penti ceremony every year on a predetermined date and month, namely October 31 to November 1.
Coordinates : S 08° 22.614′ E 120° 23. 007′
Distance from Point 0 : 111 km
Elevation :
Contact : 0821 4726 9726 – Fabianus Song